Dhapur Pulanggeni dari tradisi Yogyakarta melambangkan api batin yang terkendali, semangat hidup yang menyala namun diarahkan oleh kejernihan rasa. “Pulanggeni” dimaknai sebagai kembalinya api ke sumbernya—simbol penguasaan diri, keberanian yang matang, serta kesetiaan pada nilai kebenaran. Keris ini pantas dimiliki oleh pribadi yang memiliki daya juang tinggi, namun mampu menempatkan emosi dan kekuatan pada porsi yang tepat.
Pamor Ngulit Semongko, dengan pola menyerupai kulit semangka, menjadi doa agar pemiliknya mudah bergaul, disenangi banyak orang, serta dimudahkan jalan rezekinya. Seperti buah semangka yang manis di balik kulitnya, pamor ini melambangkan kebaikan batin yang memikat simpati dan membuka peluang dari berbagai arah.
Perpaduan Pulanggeni dan Ngulit Semongko menghadirkan pusaka yang menyeimbangkan semangat membara dengan keluwesan sosial. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya keberanian, tetapi juga kemampuan merangkul sesama demi kemanfaatan yang luas.
Panji Wilis Pintulu