Pusaka dimiliki Om Harjo pada tahun 1992. Kemudian pada 2016 berpindah ke Bapak Basiriansyah. Tahun 2025 berpindah ke Bapak Venus Femaru.
Saat dimiliki oleh Bapak Venus Femaru, hulu keris telah mengalami penggantian. Hulu saat ini berbahan gading gajah, sedangkan hulu aslinya berbahan emas, sebagai berikut:

Dhapur Mundarang pada keris Bali dikenal sebagai bentuk yang melambangkan keteguhan, ketekunan, dan kecakapan dalam menjaga kehormatan diri serta keluarga. “Mundarang” menggambarkan pusaka yang memancarkan daya proteksi kuat, seolah menjadi penjaga yang senantiasa waspada terhadap gangguan lahir maupun batin. Pusaka ini mencitrakan pribadi yang berpegang pada disiplin, memahami batas etika, serta memiliki keberanian yang terarah—bukan keberanian yang meledak-ledak, tetapi yang lahir dari penguasaan diri. Dalam tradisi Bali, bentuk Mundarang sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual yang stabil dan sikap ksatria yang menghormati dharma.
Pamor Tambangan Badung menambahkan makna kemakmuran dan kelancaran urusan hidup. Pamor ini juga dipercaya mendatangkan kelimpahan, keselamatan, dan kemudahan dalam usaha—selayaknya perjalanan menuju puncak gunung yang berupa jalan melingkari gunung. Energi dari keris berpamor tambangan dipercaya sangat kuat sehingga akan sangat membantu peningkatan usaha atau karier bagi mereka yang memang cocok dengan jenis pamor ini.

Venus Femaru
Tinatah pada pusaka ini adalah 5 Wedhana. Pada wilah, tinatah emas terdapat pada kedua sisi bagian bungkul dan gandhik. Pada gonjo, tinatah emas terdapat pada wuwungan dan kedua sisi gonjo. Motif tinatah pada gonjo berupa lung-lungan.
Identifikasi koleksi pusaka Anda TANPA BIAYA.
Dapatkan informasi dasar mengenai dhapur, pamor, dan perkiraan masa pembuatan (sepuh atau yasan enggal/kamardikan)