Keris Pusaka ber Dhapur Setan Kober dipercaya sebagai pusakanya para pengubah arus sejarah dan peradaban zaman. Cerita dan sejarah dari beberapa Legenda yang ada di Pulau Jawa, Bali dan Sumatera, mengidentifikasi makna Setan Kober sebagai sebuah energi yang besar, berkobar-kobar dan bergejolak. Bisa dimaknai juga sebagai berwatak panas dan menggelora.
Oleh karena itu, para pemegang Keris Pusaka Setan Kober seringkali mendapatkan energi dari dalam dirinya yang bergejolak dan menggelora. Seperti mempunyai energi dan semangat yang tidak pernah padam. Bahkan dengan energi dan semangat yang ada di dalam dirinya, dipercaya mampu merubah arah angin. Juga mampu merubah jalannya takdir sejarah peradaban umat manusia.
Keris Pusaka Setan Kober ini menyandang Warangka Ukiran Sepuh Cakraningrat dan Handel Pulasir Ukiran. Warangkanya berbahan Kayu Kalimasada Tua. Sedangkan Handelnya berbahan kayu Sawo Kecik. Ditambahkan Pendok Blewah Kemalo Abrit Lawasan Surakarta. Keseluruhan pembawaan warangkanya memancarkan keanggunan, kewibawaan, sekaligus keghaiban yang luhur.
Sejarah Keris Pusaka Setan Kober ini, juga merefleksikan jatuh bangun Dinasti Cakraningrat dari Madura. Ukiran pada warangkanya, teknik tempa lipat pada bilahnya, serta penataan pamor dan penggunaan bahan pamornya, sangat kental dengan Mata Air Sejarah Cakraningrat dari Sampang di Madura. Termasuk sangat lekat jalinan sejarahnya dengan Kerajaan Mataram pada era Sultan Agung. Karena Cakraningrat 1 adalah Raja Madura yang diangkat oleh Sultan Agung.
Maka, Keris Pusaka Berdhapur Setan Kober ini, hanya layak disandang oleh orang-orang yang mempunyai Jiwa Ksatria, yang berani menantang gelombang arus perubahan zaman. Atau bagi siapapun yang hendak mengubah atau menuliskan sejarah peradaban umat manusia.
Wilah terbuat dari baja dan besi sepuh. Dengan pamor dari meteorit yang membentuk pola pedaringan kebak yang nggajih atau sangat tebal.
Identifikasi koleksi pusaka Anda TANPA BIAYA.
Dapatkan informasi dasar mengenai dhapur, pamor, dan perkiraan masa pembuatan (sepuh atau yasan enggal/kamardikan)