Keris Sumenep Luk 15 Dhapur Bimokurdo Pamor Wengkon Isen

No. SIP: 0084.H/TA/XI/2025

Filosofi Pusaka

Dhapur Bimakurda / Bimokurdo melambangkan pribadi yang kuat, teguh, dan penuh keberanian dalam menghadapi tantangan hidup. Nama “Bima” merujuk pada tokoh ksatria yang memiliki ketulusan, keteguhan hati, dan kekuatan luar biasa, sementara “Kurda/Kurdo” memberi makna ketekunan serta kemauan untuk menuntaskan setiap tugas hingga selesai. Pusaka ini menggambarkan seseorang yang tidak mudah menyerah, tetap maju meski menghadapi rintangan besar, serta memiliki kesetiaan terhadap nilai kebenaran. Jiwa yang diwakilinya adalah jiwa pekerja keras—tangguh, jujur, dan siap memikul tanggung jawab berat.

Pamor Wengkon Isen memperkuat karakter tersebut dengan simbol batas pelindung dan isi yang bernilai. Garis bingkai “wengkon” melambangkan pagar penjaga diri, sedangkan isen di dalamnya menjadi tanda kehidupan batin yang kaya: kecermatan, kehati-hatian, serta penguasaan diri. Pamor ini menjadi doa agar pemiliknya dapat bertindak tegas tanpa melampaui batas, kuat namun tetap berhati bersih.

Perpaduan Bimakurda dan Wengkon Isen mencitrakan pribadi ksatria: kokoh, bertanggung jawab, terlindungi, dan memegang prinsip luhur dalam setiap langkah.

Galeri Foto Pusaka

Identifikasi Pusaka

Tangguh/Estimasi Era: Abad XVII

Wilah

Panjang Wilah: 40 cm
Jumlah Luk: Luk 15
Dhapur: Kalawijan Bimakurda
Pamor: Wengkon Isen
Gaya/Langgam Wilah: Sumenep
Panjang Gonjo: 9 cm
Jenis Gonjo: Ganja Lurus
Panjang Pesi: 7 cm
Jenis Pesi: Bulat

Warangka

Bahan Warangka: Kayu Tanggulun
Gaya/Langgam Warangka: Dheng Odheng

Gagang/Hulu

Mendak: Menir Kembang Bahan Kuningan
Bahan Gagang/Hulu: Gagang Gading
Langgam Gagang/Hulu: Donoriko

Pemilik

Nono Enjoy (2025)

Edukator

  1. Wahyu Eko Setiawan
  2. Budi Susilo

Identifikasi Digital

QR Code https://tosanaji.id/?p=3551
https://tosanaji.id/profil-pusaka/0084-h-ta-xi-2025/3551/
Identifikasi Gratis

Identifikasi koleksi pusaka Anda TANPA BIAYA.

Dapatkan informasi dasar mengenai dhapur, pamor, dan perkiraan masa pembuatan (sepuh atau yasan enggal/kamardikan)